Review Buku Seni Tinggal di Bumi

July 28, 2019



Keterangan buku :
Penulis : Farah Qoonita
Penertbit : Kanan Publishing
Tahun terbit : 2018

“Karena kita hidup di sepetak kerajaan-Nya, ketahui seni tinggal di sana. Mulai dari, Seni Tinggal di Bumi, tentang bagaimana kita menorehkan setiap guratan warna-warni kuas dalam kanvas kehidupan. Tentang hati yang ingin dicintai.. tentang perempuan.. manusia langit.. dunia sekitarmu.. sampai tentang menapaki keadilan. Selamat menorehkan karya seni paling indah di dunia untuk negeri akhiratmu.”


Farah Qoonita, adalah salah satu alumnus Universitas Padjajaran tahun 2017 dari Fakultas Ilmu Komunikasi dengan Prodi Jurnalisik. Teh Farah, begitulah orang-orang menyapanya. Dalam buku yang ia tulis ini, Teh Farah dengan sangat apik menghubungkan kisah-kisah Nabi ataupun sahabatnya serta tokoh-tokoh sejarah muslim dengan kehidupan keseharian dan kebiasaan kita, dan itu sangat relatable ternyata. Dari buku ini, Teh Farah mengajak para pembacanya untuk berkontemplasi diri, dan nyatanya memang buku ini mampu menggerakkan hati untuk merasa dan otak untuk berpikir bahwa apa yang kita lakukan saat ini kebanyakan adalah hal-hal yang tidak bermanfaat. Buku ini bukan buku yang berbentuk seperti novel -- yang ceritanya berkelanjutan, melainkan buku ini memuat sekelumit cerita-cerita pendek seputar kehidupan Nabi ataupun sahabatnya serta tokoh-tokoh sejarah muslim dunia. Sehingga pembaca tidak perlu membaca secara berurutan dari awal sampai akhir buku, melainkan pembaca bisa membaca buku ini secara acak dimulai dari cerita yang menarik menurut pembaca.


Pertama kali mendapat buku ini, dan melihat packagingnya, it’s so surprise! Yash, packagingnya unik banget. Biasanya ketika kita membeli buku, baik itu online maupun offline, buku yang kita beli tidak ada packaging khusus, tapi untuk buku ini benar-benar beda dari buku-buku yang lain yang pernah aku beli tentunya. Selain packaging, hal unik lain dari buku ini adalah prakata pembuka atau kata pengantar buku ini. Biasanya bagian ini jarang aku baca, tapi entah kenapa lagi-lagi buku ini menyajikan hal yang berbeda. Membaca kata pengantar rasanya seperti membaca inti cerita, sama sekali gak membosankan.
packaging dari buku Seni Tinggal di Bumi


Namun, dari sekian hal-hal unik tersebut, aku menemukan beberapa titik janggal yang menurutku itu masalah teknis sebetulnya. Titik janggal dari buku ini yaitu penggunaan jenis huruf yang berbeda-beda, dan setelah dilihat, ternyata terdapat dua jenis huruf yang digunakan, yaitu times new roman dengan calibri. Entah sengaja ataupun tidak sengaja, tapi tetap hal ini dirasa tidak rapi dalam hal penulisan. Meskipun jenis huruf yang digunakan berbeda, tapi ini tidak mengurangi rasa seru ketika membaca alias bukan masalah yang menganggu mata. Untuk sampul bukunya menurutku sangat ciamik, dengan memadukan warna-warna pastel sebagai warna objek gambar pada sampul. Sebagai penyuka warna pastel, sampul ini cocok buat aku.



Sekedar info buat yang minat membeli, buku ini tidak tersedia di toko buku manapun. Jika kalian memang minat untuk membeli, aku sarankan kalian untuk mengikuti akun instagram dari Teh Farah (@qooonit) karena siapa tahu nanti akan dibuka lagi pre-ordernya.

Nah, segitu tadi adalah ulasan aku untuk buku Seni Tinggal di Bumi karya Farah Qoonita. Maaf banget kalo emang reviewnya masih berantakan, aku masih terus belajar buat bikin review. Semoga kedepannya aku akan lebih baik lagi dalam membuat review ya. Nah, untuk teman-teman yang memang pernah baca buku ini, boleh banget buat kasih tambahan untuk ulasan ini di kolom komentar, yuhuuu~

You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts

@silvyabudiharti