Jangan Tanggung-tanggung

January 12, 2019



Tiba-tiba pikiran ku kelu. Ketika membaca sebuah pesan yang masuk; balasan pesan ku sebelumnya.

Sebelumnya, aku membalas pesan darinya yang sedang sakit agar segera pulih. "Kalo sehat kan enak, bisa beraktivitas lagi, ibadah juga jadi lebih enak." Balasku. Lalu temanku membalasnya kembali "Iya, udah ibadah. Tapi gak tau diterima atau engga."

Deg, rasanya seperti terhantam. Pesannya singkat, tapi seperti pengingat. Tiba-tiba pikiranku kelu, memikirkan balasan itu. "Benar juga, hehe." balas ku.

Di saat itu, pesan balasanku bukan sekedar balasan basa-basi. Karena pikiran ku benar-benar terhantam. Balasannya mengiang-ngiang.

Ya, selama ini aku tidak pernah berpikir sampai situ. Yang aku pikirkan hanya melaksanakan ibadah untuk menggugurkan kewajiban, sekedar itu. Tidak pernah muncul rasa khawatir bahwa ibadah ku akan diterima atau tidak. Selesai sholat, yasudah, lipat mukena. Pikir ku hanya sampai di situ, tanggung:)

Dari balasan pesan itulah aku merasa harus bangkit, berdiri, melangkah menuju lebih baik lagi. Sebelum mendapat balasan itu, aku merasa ibadahku baik-baik saja.

Sekarang, mataku sudah tak terpejam. Aku baru mulai paham. Merasa baik itu ternyata tidak baik. Karena dengan merasa baik maka diri kita tidak akan mendapat progress sedikitpun; merasa tidak ada yang perlu diperbaiki.

Itu belum berakhir, bangun, selagi kala ada. Masih ada yang harus diselesaikan, diperbaiki.

Kesempatan untuk lebih baik selalu hadir, namun celah untuk menghindarinya pun tak kalah cepat datang. Celah selalu beri pesonanya agar dipilih, berkamuflase supaya terlihat paling baik. Sampai akhirnya kita menyia-nyiakan kesempatan, yang bisa jadi hanya sekali.

Beri ruang untuk kesempatan, sebelum celah untuk menghindar masuk dan penuhi ruang hingga sesak; tak tersisa.

Kesempatan untuk baik yang datang mungkin akan membuat kita tak nyaman, hingga celah untuk menghindar datang berikan pengharapan;nyaman.

Nyaman yang ada justru jadi bumerang, bukan teman. Membuat lingkup kita menjadi sempit, tanpa harapan.

Jadi, kapan kita mulai jadi lebih baik tanpa nanggung?



You Might Also Like

3 Comments

  1. Terimakasih telah mengingatkan saya yang ibadahnya masih di level "yang penting gugur kewajiban", cepat bagaikan dikejar-kejar sesuatu. Pantas saja tiada rasa nyaman dan tentram yang didapat dari ibadah itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kembali kasih. tulisan ini juga sebagai pengingat diri saya sendiri

      Delete

Popular Posts

@silvyabudiharti